Di hamparan perairan utara Raja Ampat yang berarus tenang hingga bergelombang tajam, laut tidak pernah dipahami oleh Sub Suku Usba sekadar sebagai tempat menebar jala sembarangan. Bagi mereka, menangkap ikan adalah sebuah seni membaca alam, suatu perpaduan antara ketelitian mengamati gerak air, pemahaman bentuk tubir karang, serta kepatuhan pada ritme pasang surut.
Pengetahuan adat Usba yang dicatat dalam lembaran dokumentasi oleh Institut USBA bersama Blue Abadi Fund (BAF), terukir dua metode penangkapan ikan tradisional yang amat khas: Kota dan Yors Wark. Keduanya membuktikan bahwa kearifan lokal tidak hanya lahir dari pengenalan terhadap jenis biota, tetapi juga dari kecerdasan menerjemahkan karakter ruang laut ke dalam teknik bertahan hidup yang lestari.
Kota, Perangkap Batu di Tepi Abor
Jauh sebelum alat-alat tangkap modern masuk ke wilayah kepulauan, masyarakat Usba telah membangun Kota, sebuah metode penangkapan ikan dengan menyusun batu-batu karang secara cermat membentuk lingkaran terbuka. Dalam bahasa Byak, kota artinya timbunan atau tumpukan . Dalam konteks ini, kota berarti timbunan atau tumpukan batu-batu. Penempatan susunan batu ini sama sekali tidak dilakukan secara sembarangan. Ia menuntut pemahaman mendalam mengenai topografi laut, terutama keberadaan abor (tebing laut dalam yang menjadi tempat berkumpulnya ikan).
Tumpukan batu kota dirancang dengan bagian bukaan yang menghadap langsung ke arah abor. Bukaan tersebut berfungsi sebagai pintu masuk alami bagi ikan, sementara dinding batu di sekelilingnya mengarahkan pergerakan mereka ke bagian dalam perangkap. Metode ini sangat bergantung pada kondisi alam: Kota biasanya baru dapat diandalkan ketika terjadi meti kering pada fase bulan sabit.
Meski dalam ekspedisi lapangan terbaru kondisi air tidak sampai surut total sehingga praktik Kota belum dapat diamati secara langsung, keberadaan metode ini tetap merekam kecerdasan leluhur. Kota adalah wujud nyata bagaimana manusia menyelaraskan bangun fisik di dalam air mengikuti arah arus dan ritme pasang surut.
Dalam penelusuran literasi oleh Institut Usba, teknik tumpukan batu ini merupakan bagian dari kebudayaan Oceania. Kajian Bill Jeffrey dkk berjudul Underwater Cultural Heritage in the Pacific: Themes and Future Directions (2021) menunjukkan penggunaan stone fish trap atau perangkap ikan dengan batu membentang sepanjang Pasifik. Kajian tersebut menyebutkan:
Salah satu bentuk kebudayaan material berbahan batu yang luas ditemukan di bawah air dan tersebar di seluruh kawasan Pasifik adalah dinding perangkap ikan batu pasang-surut (tidal stone-walled fish weirs), yang juga disebut perangkap ikan (fish traps).
Dibangun menggunakan batu basal di pulau-pulau vulkanik yang tinggi, struktur ini juga ditemukan di pulau-pulau karang yang rendah dengan memanfaatkan batu kapur, terutama di wilayah yang memiliki hamparan terumbu karang dangkal (reef flat) sehingga perangkap tersebut dapat digunakan.
Dinding pengarah ikan (fish weirs) mengandalkan surutnya air laut untuk menahan ikan di balik struktur berdinding batu yang mengelilinginya. Sementara itu, perangkap ikan (fish traps) dibangun dengan bentuk yang dirancang untuk mengarahkan ikan masuk ke dalam perangkap, seperti aech milik masyarakat Yap (di Micronesia)
Yors Wark, Kekuatan di Balik Kerja Bersama
Jika Kota mengandalkan susunan batu mati yang diam menanti, Yors Wark justru hidup dari gerak serempak puluhan manusia. Wark dalam bahasa Byak artinya menghadang. Praktik ini melibatkan puluhan orang-orang Usba yang berdiri menyerupai pagar, dan nantinya akan menghadang ikan yang terbawa oleh arus, dan digiring ke tengah-tengah mereka hingga ke wilayah perairan dangkal. Metode penangkapan komunal ini dipraktikkan pada saat meti konda, yakni ketika air laut surut hingga menyisakan kedalaman sebatas paha orang dewasa.
Pertengahan Agustus 2026, suasana hidup terpampang nyata ketika para pemuda dan pemudi Marga Imbir mengorganisasikan kelompok kerja Yors Wark. Puluhan orang turun ke perairan dangkal, berdiri berjajar membentuk formasi pagar menyerupai huruf U di tepi abor. Bagian terbuka formasi dibiarkan menghadap ke daratan, sementara sisi-sisinya berfungsi sebagai pembatas ruang gerak ikan.
Di sinilah teknik paya siyas dimainkan. Dengan dipimpin oleh seorang penberi komando, para peserta menepuk-nepuk air secara teratur menggunakan tangan untuk menghalangi ikan melarikan diri. Perlahan-lahan, formasi bergerak maju mempersempit ruang kepungan secara kolektif. Ikan-ikan yang tergiring ke area yang lebih dangkal kemudian ditangkap menggunakan tombak.
Kekuatan dari Yors Wark adalah kekompakan yang dipimpin oleh satu komando. Gerak maju, berdiri, duduk di air untuk paya siyas, hingga merapatkan barisan dilakukan dalam satu komando. Hari itu, kami menyaksikan puluhan anak muda menjadi pagar hidup di perairan yang sedang meti konda. Mereka bersabar menunggu waktu surut dan arus air yang tepat untuk menggiring ikan-ikan ke wilayah yang lebih dangkal. Dalam penggiringan ini, mereka yang menepuk-nepuk air, mengarahkan jalur ikan. Setelah ikan berada di wilayah yang lebih dangkal, baru kemudian mereka menangkap menggunakan tombak tradisional dan mengejar ikan.

Yang menarik, kegiatan yors wark tidak dilakukan setiap hari. Aktivitas ini biasanya disiapkan menjelang momen-momen khusus bersama, seperti menyambut perayaan Natal, di mana hasil tangkapan melimpah yang diperoleh digunakan untuk menunjang kebutuhan kolektif kampung. Di balik tenaga dan gelak tawa para pemuda yang berbasah-basahan di air surut, tersimpan nilai solidaritas sosial yang kuat serta batasan tak tertulis: ada waktunya untuk mengambil hasil laut secara bersama-sama, dan ada waktunya pula untuk membiarkan alam beristirahat.
Pilihan Ruang dan Kebutuhan
Baik kota maupun yors wark memperlihatkan bagaimana pengetahuan ekologis lokal bekerja. Kota bertumpu pada penguasaan karakter pasang surut dan struktur batuan, sementara yors wark bertumpu pada pengorganisasian sosial dan kebersamaan komunal.
Kedua teknik tradisional ini menegaskan bahwa masyarakat Usba memandang laut bukan sebagai lumbung tanpa batas yang bebas dikuras kapan saja, melainkan ruang hidup yang menuntut kearifan, waktu yang tepat, serta penghormatan pada hukum alam.***

