Nama-Nama yang Menyimpan Cerita, Ketika Bahasa dan Alam Berbicara di Kepulauan Ayau

KEPULAUAN AYAU — Di bawah terik matahari khatulistiwa yang memantul di atas pasir putih Kepulauan Ayau, sebuah nama tempat bukan sekadar penunjuk koordinat di atas peta. Ketika orang-orang Sub Suku Usba menyebut Sau Warpur atau Krui Inarpyai, mereka tidak sedang mengeja sebutan kosong. Di balik setiap suku kata tersembunyi ingatan ekologis yang diwariskan lintas generasi. Mulai dari bentuk karang, jalur lintasan perahu, hingga perilaku ikan yang berenang di tubir laut yang dalam.

Bagi masyarakat Usba, bahasa adalah arsip hidup. Pengalaman panjang hidup berdampingan dengan laut, pesisir, dan pulau-pulau berkarang merumuskan cara pandang bahwa mengenali alam harus dimulai dari kemauan untuk menyebut, menghafal, dan memahami namanya.

Dari Celah Karang hingga Hamparan Pasir

Pengetahuan lokal orang Usba mengenai ruang hidupnya terekam jelas dalam istilah-istilah geografi lokal yang spesifik. Mereka tidak memandang laut sebagai hamparan air yang seragam. Lanskap perairan dibaca secara teliti melalui bentuk dan fungsinya.

Ambil contoh kata sau yang dalam bahasa Byak berarti pelabuhan atau celah masuk. Dalam pemetaan wilayah adat marga Umpes, dikenal titik-titik seperti Sau Warpur, Sau Andif, hingga Sau Dorey. Sau bukan sekadar lekukan garis pantai, melainkan celah aman di antara karang tempat perahu-perahu tradisional melintas. Setiap sau menyimpan cerita tentang bagaimana para leluhur membaca arus, menentukan alur pelayaran, bahkan merekam jalur pergerakan perahu-perahu besar yang dahulu berlayar menuju Kesultanan Tidore.

Selain sau, masyarakat juga mengenali krui, yakni batu-batu karang besar yang mencuat di permukaan laut yang kerap difungsikan sebagai penanda batas wilayah marga, serta yen yang merujuk pada hamparan pasir timbul tempat biota pesisir mencari makan. Karakter alam itu sendiri menjelma menjadi penanda dan kamus hidup yang memudahkan warga membaca wilayahnya tanpa harus bergantung pada teknologi moderen.

Ensiklopedia Ikan, Burung, dan Tumbuhan Pesisir

Pendokumentasian pengetahuan adat yang difasilitasi oleh Institut USBA bersama Blue Abadi Fund (BAF) membuka lembaran luas tentang bagaimana masyarakat Usba mengklasifikasikan keanekaragaman hayati. Pengetahuan ini melampaui batas-batas daftar ilmiah modern, melekat erat dengan nama-nama lokal yang sarat makna.

Di sektor kelautan, masyarakat Usba mengenali puluhan jenis ikan dengan nama lokal yang presisi. Mulai dari marga ikan herbivora seperti Induaf (ikan kakatua) hingga puluhan jenis ikan karang dan pelagis seperti Inmuk, Insarek, Indos, hingga kelompok ikan karnivora seperti Inarpyai (kerapu goliath/kerapu besar) dan berbagai jenis ikan kuwe serta hiu (Romunsoren, Romunawas). Dalam pengumpulan data, Institut Usba telahh mencatat 82 nama jenis ikan dalam bahasa Usba yang telah diketahi nama ilmiahnya.

Setiap nama ikan sering kali diikuti oleh pemahaman mendalam tentang habitat, musim kemunculan, hingga perilakunya. Misalnya, pengetahuan tentang ikan inkonem yang banyak keluar pada fase bulan sabit, atau bagaimana masyarakat memanfaatkan insonem (cacing laut) yang dicari saat meti (air surut) kering untuk diolah menjadi bekal perjalanan laut.

Tidak hanya di laut, daratan karang dan pesisir Ayau juga diisi oleh ingatan tentang puluhan jenis ungags, seperti Mansinem, Manyouri (nuri), hingga Mandum yang khas di Pulau Meosmandum, serta tumbuhan pesisir seperti Srai (kelapa) yang memiliki jenis khusus berkhasiat obat hingga Kristum (ketapang raja) yang bagian daun dan kulit batangnya diandalkan untuk pengobatan tradisional.

Menjaga Kata agar Pengetahuan Tak Padam

Di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial yang bergerak cepat, nama-nama lokal dan istilah tradisional ini menghadapi tantangan kepunahan. Generasi muda Usba yang tumbuh di era digital kerap kali mulai asing dengan istilah-istilah lama yang biasa diucapkan oleh para kakek dan nenek mereka.

Itulah sebabnya proses dokumentasi yang dijalankan melalui pertemuan terbuka, pelatihan lingkungan hidup, dan perjumpaan lintas generasi di Kampung Dorehkar menjadi sangat krusial. Ketika para tetua menyebutkan nama-nama lokal tumbuhan, burung, dan ikan di hadapan anak-anak muda, bahasa lokal kembali menemukan ruang dengarnya.

Nama suatu tempat atau makhluk hidup terbukti bukan sekadar sebutan administratif. Ia adalah jembatan relasi antara manusia dan ruang hidupnya. Dengan merawat nama-nama tersebut, Sub Suku Usba tidak sedang menghafal daftar kata masa lalu, melainkan merawat cara pandang—bahwa alam harus dikenal dengan baik sebelum ia dimanfaatkan, dihormati sebelum dijaga, dan diwariskan agar identitas mereka sebagai masyarakat kepulauan tidak tercerabut dari akarnya.***

Temuan data lengkap tentang pengetahuan adat Usba akan alam ada di buku Konservasi Adat Usba.