
Negeri di Antara Karang dan Deburan Ombak
Penulis: Andy Tagihuma
Negeri di Antara Karang dan Deburan Ombak mengajak pembaca menelusuri perjalanan panjang sejarah Raja Ampat melalui perpaduan temuan arkeologi, arsip kolonial, laporan pelayaran, tradisi lisan, dan kajian sejarah mutakhir. Dari Gua Mololo di Waigeo, seni cadas Misool, mitos Empat Raja dan Gurabesi, jaringan perdagangan sosolot, praktik hongi dan perbudakan, hingga perlawanan Pangeran Nuku, artikel ini memperlihatkan bahwa Raja Ampat bukanlah wilayah yang pasif dalam pusaran sejarah, melainkan masyarakat yang terus bernegosiasi, membangun aliansi, mempertahankan pengetahuan, dan menentukan pilihan-pilihan politiknya sendiri.
Lebih dari sekadar kronik sejarah, artikel ini menawarkan cara membaca masa lalu secara kritis dengan mempertemukan berbagai jenis bukti tanpa mengutamakan satu sumber di atas yang lain. Arkeologi, tradisi lisan, dan arsip kolonial diperlakukan sebagai lapisan-lapisan ingatan yang saling melengkapi sekaligus saling menguji. Dengan pendekatan tersebut, Raja Ampat hadir bukan sebagai wilayah pinggiran, melainkan sebagai salah satu simpul penting dalam sejarah panjang Pasifik dan Nusantara, tempat manusia, laut, dan kebudayaan terus membentuk satu sama lain selama ribuan tahun.

Otoritas, Pimpinan dan Genealogi Papua
Penulis: Andy Tagihuma
Dalam tulisan ini, kita diajak melihat bagaimana masyarakat Papua memahami kepemimpinan dan otoritas melalui cara pandang mereka sendiri. Berangkat dari catatan antropolog Belanda F.C. Kamma yang hidup bersama masyarakat Papua sejak tahun 1931, tulisan ini mengungkap bahwa banyak pengetahuan penting tentang kepemimpinan tidak tersimpan dalam dokumen resmi, melainkan hidup dalam cerita para tetua, legenda, ritual, dan genealogi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Melalui pengamatannya, Kamma menemukan bahwa bagi masyarakat Papua, seorang pemimpin tidak dihormati karena kekayaan atau kekuasaan yang dimilikinya, tetapi karena kemampuannya mewakili leluhur, komunitas, dan nilai-nilai yang lebih besar dari dirinya sendiri. Tulisan ini tidak hanya membantu kita memahami cara berpikir masyarakat Papua tentang otoritas, tetapi juga menunjukkan bahwa pengetahuan adat merupakan warisan intelektual yang kaya, yang hingga kini masih hidup dan terus memberi makna bagi kehidupan masyarakat.

Tanah-Laut dan Hak untuk Memutuskan
Penulis: Lisa Febriyanti
Tanah dan laut bagi masyarakat adat bukan sekadar ruang geografis, melainkan ruang hidup yang membentuk identitas, pengetahuan, dan keberlanjutan kehidupan. Artikel ini membahas Free, Prior and Informed Consent (FPIC) atau Persetujuan atas Dasar Informasi Awal Tanpa Paksaan sebagai prinsip yang menjamin hak masyarakat adat untuk memperoleh informasi yang utuh, bebas dari tekanan, serta menentukan sendiri keputusan atas setiap rencana yang memengaruhi wilayah mereka.
Selain mengulas dasar hukum FPIC di tingkat internasional dan implementasinya di Indonesia, artikel ini menyoroti berbagai tantangan penerapannya, terutama pengakuan wilayah adat dan partisipasi yang bermakna. Pada akhirnya, artikel menegaskan bahwa FPIC bukan sekadar prosedur administratif, melainkan instrumen penting untuk melindungi hak masyarakat adat sekaligus memastikan pembangunan berlangsung secara adil, partisipatif, dan menghormati keberlanjutan ruang hidup mereka.
