Membaca Musim di Ayau, Orang Usba Menjemput Insonem Saat Laut Surut
KEPULAUAN AYAU — Orang Usba di Kepulauan Ayau, Raja Ampat, telah lama mengenali pergantian musim melalui perubahan angin dan keadaan laut. Mereka tahu kapan angin mulai menguat, kapan perairan kembali teduh, dan kapan air surut jauh hingga membuka hamparan pasir di sepanjang pesisir. Perubahan yang datang silih berganti itu menjadi pegangan masyarakat untuk menentukan waktu mencari ikan dan mengambil hasil laut bagi kebutuhan hidup sehari-hari. Di gugusan pulau sebelah utara Raja Ampat ini, orang tua mengenali musim dari pengalaman bertahun-tahun menghadapi angin dan gelombang, sedangkan anak-anak mulai mengenal kehidupan pesisir ketika ikut mencari hasil laut. Salah satu yang dikenal masyarakat adalah insonem, sejenis cacing laut yang bersembunyi di bawah pasir dan biasa dicari ketika air turun hingga mencapai keadaan surut kering. Untuk mendapatkan insonem, orang harus memperhatikan tanda tempat cacing itu bersembunyi, kemudian menangkapnya menggunakan alat tradisional. Hasil tangkapan dibawa pulang untuk diasar atau diasapi menjadi makanan khas Ayau yang dapat disiapkan sebagai bekal perjalanan laut. Kebiasaan mencari dan mengolah insonem berlangsung mengikuti keadaan pesisir yang berubah bersama musim dan pasang surut. Pasibarek, Penanda Musim Orang Usba Masyarakat Usba mengenal penanggalan musim tradisional yang disebut Pasibarek. Dalam penanggalan tersebut terdapat dua musim utama, yakni Wampasi, masa ketika keadaan laut lebih teduh, dan Wambarek, masa datangnya angin kencang. Wampasi biasanya berlangsung sekitar Maret hingga Agustus, sedangkan Wambarek berlangsung dari September hingga Februari. Orang Usba juga mengenali waktu tertentu ketika masing-masing musim mencapai puncaknya. Pergantian musim menjadi perhatian masyarakat karena keadaan laut berpengaruh pada pekerjaan mencari hasil perairan. Ketika angin berubah dan laut memasuki musim berikutnya, orang Usba memperhatikan jenis ikan serta biota yang biasa muncul pada waktu tertentu. Pengalaman menghadapi keadaan laut dari tahun ke tahun membantu mereka mengenali hubungan antara datangnya musim dan kehidupan berbagai jenis biota di perairan Ayau. Perbedaan waktu kemunculan biota tersebut membuat masyarakat perlu memperhatikan musim. Karena itu, pengetahuan tentang Pasibarek membantu orang Usba mengenali perubahan yang terjadi sepanjang tahun, termasuk keadaan air yang memungkinkan mereka turun mencari pangan di pesisir.m sebelum mencari hasil laut. Waktu yang sesuai untuk menangkap insonem tidak selalu sama dengan masa kemunculan geropa ataupun musim bertelur penyu. Mencari Insonem di Hamparan Meti Kering Air laut mulai surut, bagian pesisir yang biasanya terendam perlahan terbuka hingga meninggalkan hamparan pasir yang semakin luas. Saat air turun hingga mencapai meti kering, masyarakat Ayau dapat mencari insonem yang hidup tersembunyi di bawah permukaan pasir. Orang yang hendak menangkap cacing laut ini perlu mengenali tanda keberadaannya, sebab insonem tidak langsung terlihat meskipun hamparan pasir telah terbuka. Bagi orang yang belum terbiasa mencari insonem, pasir yang ditinggalkan air laut mungkin hanya terlihat dipenuhi bekas air dan lubang-lubang kecil. Namun, orang Ayau yang mengenal pekerjaan ini dapat memperkirakan tempat cacing bersembunyi dengan memperhatikan permukaan pasir yang sedikit cekung atau memiliki lubang. Setelah menemukan tanda tersebut, mereka menentukan bagian yang akan diperiksa untuk menangkap insonem. Peralatan yang digunakan berupa sebatang kayu yang disebut dari batang maninek oleh orang Usba dan lidi. Kayu maninek ketika dipakai menangkap insonem disebut aryai. Kayu ini dipakai untuk menangkap insonem dari bawah pasir, sedangkan lidi digunakan untuk mengumpulkan hasil tangkapan agar mudah dibawa. Mencari insonem membutuhkan ketelitian dalam mengenali tanda pada pasir serta keterampilan menggunakan alat yang tersedia. Laki-laki maupun perempuan mengenal pekerjaan ini, meskipun anak-anak, remaja, dan perempuan termasuk kelompok yang banyak terlibat. Mereka yang telah terbiasa mencari insonem dapat memanfaatkan waktu surut untuk memperoleh bahan makanan tanpa memerlukan perlengkapan penangkapan yang rumit. Institut Usba berkesempatan untuk mengikuti perjalanan masyarakat Usba mencari Insonem di Boyabo. Insonem yang menjadi kuliner khas Ayau dapat dikategorikan sebagai pengetahuan adat, karena tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan pengetahuan musim. Hal ini menjadi bagian dalam kerja Penguatan Tata Kelola Pengetahuan Adat untuk Konservasi Laut di Bentang Kepala Burung Papua. Program ini dilaksanakan oleh Institut Usba dan mendapatkan dukungan dari Blue Abad Fund melalui Hibah Siklus 6. Air meti sudah kering, kami bisa berjalan jauh hingga mendekati abor. Anak-anak yang ikut mencari insonem sudah akrab dengan proses mencari bahan pangan ini. Rupanya, mereka telah kerap ikut mencari insonem. Pengalaman ketika mengikuti pekerjaan di pesisir menjadi salah satu jalan bagi keterampilan mencari pangan untuk terus dikenal dalam kehidupan masyarakat Ayau. Insonem Asar Bekal Perjalanan Laut Insonem yang berhasil dikumpulkan dari hamparan pasir kemudian dibawa pulang untuk diolah menjadi makanan khas masyarakat Ayau. Cara pengolahan yang dikenal adalah diasar, yakni mengasapi hasil tangkapan sehingga dapat disiapkan untuk kebutuhan makan maupun sebagai bekal ketika orang bepergian menggunakan perahu. Pengolahan insonem banyak dikerjakan oleh perempuan. Mereka menyiapkan hasil tangkapan yang dibawa dari pesisir, kemudian mengasapinya menjadi makanan yang dapat dibawa dalam perjalanan. Kebiasaan ini berguna bagi masyarakat Ayau yang harus menggunakan perahu untuk menjangkau kampung atau pulau lain, dengan waktu tempuh yang dapat mencapai setengah hari bahkan sehari penuh. Pengetahuan Orang Usba di Tengah Perubahan Zaman Seiring perubahan kehidupan masyarakat kepulauan, pengetahuan tentang musim dan keterampilan mencari serta mengolah insonem tetap perlu dikenalkan kepada generasi yang lebih muda. Pasibarek menyimpan pengalaman orang Usba dalam mengenali keadaan laut, sementara kebiasaan mencari insonem memberi kesempatan kepada mereka yang tumbuh di Ayau untuk mempelajari pekerjaan yang telah dikenal dalam kehidupan masyarakat. Bagi orang Usba di Kepulauan Ayau, Wampasi dan Wambarek tetap dikenal sebagai penanda musim, sedangkan meti kering menjadi waktu ketika mereka dapat mencari insonem di bawah pasir. Dari hasil tangkapan yang dikumpulkan dengan sebatang kayu dan lidi hingga pengasapan yang dikerjakan perempuan, kehidupan masyarakat mempertemukan pengetahuan musim dengan kebutuhan pangan sehari-hari. Selama orang masih mengenali tanda-tanda itu dan menggunakan keterampilannya, pengetahuan tentang laut akan terus mempunyai tempat dalam kehidupan orang Usba.***
