Generasi Muda Adat Usba Mengorganisir Diri dan Menjaga Pengetahuan Leluhur di Kepulauan Ayau

KEPULAUAN AYAU — Pengetahuan tentang wilayah adat masyarakat Usba di Kepulauan Ayau, Raja Ampat, selama ini banyak hidup dalam ingatan dan penuturan para tetua. Mereka mengenali batas wilayah, nama tempat, serta keadaan alam yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Pengetahuan yang diwariskan secara lisan itu kini menghadapi kebutuhan untuk terus dipelajari oleh generasi muda, terutama ketika pengenalan wilayah adat mulai dilakukan melalui pencatatan koordinat dan penyusunan peta.

Di tengah kegiatan pendokumentasian wilayah adat tersebut, muncul langkah untuk memperkuat keterlibatan generasi muda melalui pertemuan awal pembentukan Forum Pemuda dan Pemudi Adat Sub Suku Usba pada 6 Agustus 2026. Pertemuan ini menjadi permulaan pengorganisasian pemuda dan pemudi adat agar mereka mempunyai ruang untuk terlibat dalam kegiatan adat, mengenal wilayah tempat masyarakat hidup, serta mempelajari pengetahuan yang selama ini dijaga melalui ingatan dan pengalaman para tetua.

Subtitle for This Block

Text for This Block

Sejak pembentukan forum ini, Institut Usba terus mendorong keterlibatan para generasi muda ini dalam rangkaian kegiatan Penguatan Tata Kelola Pengetahuan Adat untuk Konservasi Luat di Bentang Kepala Burung Papua yang difasilitasi oleh Blue Abadi Fund. Para pemuda dan pemudi adat telah berpartisipasi aktif dalam kegiatan pemetaan hingga pendokumentasian pengetahuan adat tentang alam dan musim.

Kehadiran generasi muda dalam kegiatan pendokumentasian adat mempunyai arti tersendiri bagi masyarakat Usba. Ketika pengetahuan tentang wilayah lebih banyak diwariskan melalui penuturan, kesempatan untuk mendengar penjelasan tetua, mengenali nama tempat, dan memahami batas wilayah menjadi kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga pengetahuan tersebut. Pembentukan forum membuka kemungkinan agar keterlibatan pemuda dan pemudi dapat diorganisasikan dengan lebih terarah, meskipun kegiatan lanjutan forum masih perlu dilihat sesuai perkembangan pelaksanaannya.

Dari Penuturan Tetua Menuju Pengetahuan Generasi Muda

Bagi masyarakat Usba, mengenali wilayah adat berarti memahami tempat-tempat yang telah lama diketahui melalui pengalaman hidup bersama alam. Para tetua menyimpan pengetahuan mengenai batas wilayah dan nama-nama tempat, sedangkan generasi muda membutuhkan kesempatan untuk mempelajari keterangan tersebut agar dapat mengenali wilayah adatnya dengan lebih baik.

Pewarisan secara lisan memungkinkan pengetahuan tetap hidup melalui hubungan antara orang yang mengetahui dan mereka yang belajar. Namun, ketika keterangan mengenai batas dan tempat hanya tersimpan dalam ingatan orang-orang tertentu, generasi berikutnya perlu memperoleh kesempatan untuk mendengar, memahami, dan mengenalinya secara langsung. Kebutuhan inilah yang memberi alasan bagi pemuda dan pemudi untuk mengambil bagian dalam kegiatan pendokumentasian pengetahuan adat.

Pekerjaan pemetaan wilayah adat Usba memberi ruang bagi proses belajar tersebut. Selama ekspedisi, titik-titik batas wilayah dicatat menggunakan GPS berdasarkan wilayah yang telah diidentifikasi masyarakat. Bagi generasi muda, hasil pemetaan semacam ini dapat menjadi bahan untuk mempelajari wilayah adat, selama keterangan yang tercantum di dalamnya tetap diperiksa bersama orang-orang yang mengetahui tempat tersebut.

Pertemuan 6 Agustus, Langkah Awal Pemuda dan Pemudi Adat

Awal pembentukan Forum Pemuda dan Pemudi Adat Sub Suku Usba dilakukan 6 Agustus 2026. Saat pertemuan tersebut berlangsung, sekaligus menandai langkah pengorganisasian generasi muda agar keterlibatan mereka dalam kegiatan adat dan pendokumentasian pengetahuan masyarakat mempunyai ruang yang lebih jelas.

Forum ini dihadiri 10 pemuda adat dan 10 pemudi adat. Hadirnya 20 generasi muda adat Usba ini bukan tiba-tiba saja, melainkan telah diidentifikasi dari kegiatan pemetaan dan konsultasi dengan Dewan Adat mengenali generasi muda di masing-masing marga, yang dapat didorong untuk membentuk forum.

Pertemuan dilaksanakan di Imbesasir, kotak pasir yang menjadi khas budaya Usba. Institut Usba menyampaikan maksud dan tujuan mendorong hadirnya forum ini. 10 pemuda yang hadir berasal dari 5 marga Usba: Umpes, Rumbewas, Imbir, Mambrisau dan Burdam. Demikian pula pemudi adat. Beberapa pemuda dan pemudi adat sebelumnya telah mengikuti Sekolah Kader Masyarakat Adat yang diselenggarakan oleh Institut Usba, sehingga dalam hal organisasi mereka telah mendapatkan bekal.

Forum ini diarahkan sebagai wadah penguatan keterlibatan pemuda dan pemudi dalam mengenali pengetahuan adat yang diwariskan. Melalui pengorganisasian tersebut, generasi muda mempunyai peluang untuk mengikuti kegiatan, belajar dari para tetua, serta mengambil peran dalam usaha mendokumentasikan pengetahuan mengenai wilayah dan alam tempat masyarakat Usba menjalani kehidupan.

Forum Pemuda dan Pemudi Adat Usba

Pertemuan awal itu belum dapat dipandang sebagai tanda bahwa seluruh agenda forum telah berjalan. Kegiatan yang tercatat masih berada pada tahap awal pembentukan, sehingga keberlanjutan peran pemuda dan pemudi akan bergantung pada bagaimana langkah pengorganisasian tersebut diteruskan dalam kegiatan berikutnya, seperti pendidikan lingkungan hidup dan implementasinya di sekolah.

Bagi generasi muda Usba, ruang keterlibatan seperti ini diperlukan agar pengetahuan adat tidak berhenti sebagai keterangan yang hanya didengar pada kesempatan tertentu. Mereka memerlukan hubungan yang terus terjaga dengan para tetua, kesempatan mengenali wilayah, dan keterlibatan dalam pekerjaan pendokumentasian sehingga pengetahuan yang diterima dapat dipahami melalui tempat serta keadaan alam yang diterangkan.

Mengenali Wilayah, Menyiapkan Peran Generasi Muda

Peluang keterlibatan pemuda dan pemudi juga berkaitan dengan keberlanjutan kegiatan konservasi. Ketika generasi muda memahami wilayah adat beserta pengetahuan masyarakat tentang alam di dalamnya, mereka mempunyai dasar untuk ikut dalam pembicaraan dan pekerjaan yang berhubungan dengan pengenalan serta pengelolaan wilayah. Namun, keterlibatan tersebut masih memerlukan proses belajar dan pengorganisasian yang berlanjut, bukan sesuatu yang dapat dianggap selesai melalui satu pertemuan.

Yonatan Imbir, alah satu anggota forum pemuda adat Usba menyatakan, “Saya menggunakan kesempatan ini untuku belajar berorganisasi dan mengelola program. Saya ingin mendapatkan banyak ilmu tentang bagaimana pengetahuan adat dan konservasi ini bisa dijalankan.”

Sementara itu Efrodince Imbir, pemudi adat Usba yang juga berprofesi sebagai guru dan alumni Sekolah Kader Masyarakat Adat bertekad ingin menyebarkan pengetahuan-pengetahuan adat, baik sebagai peneguh identitas maupun kaitan dengan konservasi alam, agar apinya tidak akan padam.

Charles Imbir, Direktur Institut Usba yang juga hadir di Ayau memberikan semangat kepada para generasi muda Usba untuk berperan sebagai penjaga pengetahuan adat. Charles juga membuka kesempatan bagi mereka untuk menciptakan solusi-solusi

Pertemuan awal Forum Pemuda dan Pemudi Adat Sub Suku Usba menjadi salah satu langkah menuju kebutuhan tersebut. Forum dapat menyediakan ruang bagi generasi muda untuk mempererat hubungan dengan para tetua, mengikuti kegiatan adat, dan mengambil bagian dalam pendokumentasian pengetahuan yang selama ini diwariskan terutama melalui penuturan.

Menjaga Pengetahuan, Meneruskan Pekerjaan

Peta wilayah adat Usba yang dilihat semua masyarakat pada 6 Agustus 2026 mempertemukan dua cara mengenali wilayah. Di satu sisi, koordinat GPS membantu mencatat letak geografis dan menyusun batas dalam gambaran yang dapat dibaca bersama.

Tantangan berikutnya adalah menjaga agar kesempatan belajar dan keterlibatan tersebut dapat berlanjut setelah pertemuan awal pembentukan forum. Pengetahuan yang masih hidup dalam penuturan para tetua memerlukan orang-orang yang bersedia mempelajarinya, sementara pekerjaan pendokumentasian membutuhkan keterlibatan masyarakat agar hasil yang disusun tetap berhubungan dengan pengetahuan pemilik wilayah adat. Selain itu, Pekerjaan berikutnya akan menentukan seberapa jauh ruang keterlibatan itu dapat digunakan untuk mengambil peran dalam kegiatan konservasi. ***