KEPULAUAN AYAU — Di Kepulauan Ayau, sebuah pulau berkarang yang dikepung lautan lepas di utara Raja Ampat, waktu tidak hanya dibaca dari jarum jam dinding atau penanggalan masehi di atas meja. Bagi masyarakat Sub Suku Usba, perjalanan hari, bulan, dan tahun terukir di langit malam, dibaca dari pergeseran posisi terbit matahari, serta dirasakan dari dinamika gelombang, angin, dan pasang surut air laut.
Ketika kalender dinding menunjukkan pertengahan tahun, orang-orang tua Usba justru memandang ke cakrawala. Mereka membaca tanda-tanda alam yang tidak pernah tertulis dalam lembaran kertas: kapan laut teduh, kapan angin barat mulai menderu, hingga kapan ikan-ikan tertentu akan datang mendekati tubir karang.
Pasibarek: Ketika Musim Membagi Laut menjadi Dua Rupa
Dalam sistem pengetahuan tradisional masyarakat Usba, siklus satu tahun terbagi ke dalam dua musim utama yang dikenal sebagai Pasibarek. Musim pertama adalah Wampasi, yakni periode teduh yang berlangsung sekitar bulan Maret hingga Agustus. Pada rentang waktu inilah perairan Kepulauan Ayau tenang, menjadi ruang aman bagi warga untuk melaut, memetakan wilayah, hingga menyeberang antarpulau.
Sebaliknya, memasuki September hingga Februari, alam berganti wajah menjadi Wambarek, musim angin kencang dan gelombang tinggi khas samudra Pasifik. Wambarek bukan sekadar cuaca buruk; ia adalah penanda perubahan ritme hidup warga yang menuntut kewaspadaan tinggi saat beraktivitas di perairan terbuka.
Dari dokumentasi yang dibagikan oleh Kepala Adat Sub Suku Usba Niklas Umpes kepada Institut Usba, awal tahun baru dalam penanggalan tradisional pun memiliki dasar astronomi dan ekologis yang unik. Tahun baru tidak dimulai pada 1 Januari, melainkan pada bulan Maret, tepatnya saat matahari terbit tepat di titik timur sejati yang bertepatan dengan fase bulan baru (paik syor babo) serta pola pasang surut air laut tertentu. Bulan ini dinamai Paik Mambairusi, urutan bulan pertama yang menandai dimulainya siklus Wampasi. Dari sana, waktu bergulir melewati 12 siklus bulan lokal, mulai dari Paik Yawi, Paik Mansaryapi, Paik Insawosami, hingga ditutup oleh Paik Inseri di akhir Februari. Paik dalam bahasa Usba artinya bulan.
Bahkan dalam lingkup harian, pembagian waktu dikenal begitu lekat dengan ritme alam: Arwo untuk menyebut suasana pagi, Orkok saat siang terik, dan Orsyun ketika matahari bergerak turun, tanda waktu telah berganti menjadi mandira (sore).

Kompas Alam dan Kalender Pangan
Bagi nelayan Usba, memahami siklus bulan dan musim bukan sekadar hafalan tradisi, melainkan urusan bertahan hidup dan menjaga keberlanjutan pangan. Setiap fase bulan dan perubahan musim membawa cerita tersendiri tentang perilaku biota laut.
Saat memasuki periode Wampasi dengan kondisi meti (air laut surut) kering, masyarakat mengetahui bahwa inilah saat yang tepat untuk berburu insonem (cacing laut/cacing kacang) di dalam hamparan pasir pantai. Insonem yang diperoleh kemudian diasapi (diasar) oleh para perempuan untuk dijadikan bekal pangan kaya gizi saat melakukan perjalanan jauh di laut.
Pengetahuan spesifik lainnya terekam pada perilaku ikan karang dan penyu. Ikan inkonem (keluarga ikan lencam) diketahui banyak keluar pada fase bulan sabit; ikan insnur (kakap layar) lebih mudah ditemui saat air surut di pagi hari; sementara geropa berkumpul pada periode tertentu antara Agustus hingga Januari. Musim pendaratan dan peneluran penyu di pulau-pulau kecil seperti Mof, Bot, dan Myaren juga terekam presisi berlangsung antara bulan Maret hingga Agustus.
Kalender tradisional ini bertindak sebagai panduan efisiensi sekaligus pengontrol alamiah. Warga tahu kapan harus memanen hasil laut dan kapan harus memberi waktu bagi alam untuk beristirahat dan memulihkan diri.
Menyelamatkan Catatan Tetua, Mewariskan Ingatan
Sebagaimana pengetahuan lisan di berbagai belahan Nusantara, sistem penanggalan tradisional Usba sempat berada di ambang kerapuhan akibat perubahan zaman. Namun, dalam proses pendokumentasian yang difasilitasi oleh Institut USBA bersama Blue Abadi Fund (BAF), sebuah momen berharga terjadi di Kampung Dorehkar.
Kepala Adat Sub Suku Usba, Niklas Umpes, membuka dan membagikan catatan pribadi mengenai penanggalan tradisional yang tersimpan lama kepada generasi muda. Dalam ruang-ruang pelatihan perjumpaan lintas generasi, para pemuda Usba duduk melingkar, membaca, dan mencocokkan catatan sang Kepala Adat dengan pengalaman nyata di laut.

Proses itu berubah menjadi arena pertukaran pengetahuan yang hidup. Generasi muda yang sebelumnya terbiasa dengan kalender masehi kini mulai memahami logika berpikir para leluhur mereka bahwa bintang, bulan, angin, dan arus adalah kitab alam yang jujur.
“Membaca musim bukan hanya tentang menghitung tanggal, melainkan tentang bagaimana kita menyesuaikan kehidupan manusia dengan ritme alam tempat kita tinggal,” demikian pesan yang tertanam dari pertemuan tersebut.
Dokumentasi kalender tradisional Usba pada akhirnya membuktikan bahwa pengetahuan lokal tidak boleh dibiarkan membeku sebagai dongeng masa lalu. Ketika pengetahuan para tetua dipertemukan dengan rasa ingin tahu generasi muda, kalender alam itu kembali menemukan fungsinya, menjadi kompas kebudayaan dalam merawat laut dan tanah kepulauan mereka.***

