Sosialisasi Buku Sejarah Sub Suku Usba di Raja Ampat

Setelah diluncurkan di ibu kota, Institut USBA bersama para peneliti, tokoh adat, dan mitra kebudayaan melanjutkan langkah berikutnya: membawa kembali buku tersebut ke tanah asalnya. Kegiatan ini diberi makna sebagai pengembalian “buku” kepada pemilik adat. Buku yang semula ditulis berdasarkan kisah, ingatan, dan pengetahuan masyarakat Usba, kini dikembalikan sebagai bentuk penghormatan dan tanggung jawab intelektual. Prosesi ini dilakukan dengan cara-cara yang sesuai dengan adat setempat, diawali dengan doa dan sambutan para tetua adat di rumah tua, disertai simbol penyerahan buku sebagai tanda kembalinya cerita kepada asalnya. Dalam perjalanan sosialisasi ini, tim Institut Usba melakukan kunjungan ke tiap kampung dan marga di wilayah Raja Ampat, membagikan buku dan mengadakan diskusi terbuka bersama masyarakat. Buku tidak hanya dibaca, tetapi diperbincangkan kembali, diperiksa bersama, dan diberi ruang untuk menerima masukan, koreksi, atau tambahan cerita dari para pemilik ingatan. Dalam suasana yang akrab dan penuh makna, buku ini menjadi alat untuk membangun kembali dialog antar komunitas adat, mempertemukan versi-versi cerita yang berbeda, dan memperkaya catatan sejarah yang telah ditulis. Sosialisasi ini tidak hanya memperkuat akurasi isi buku, tetapi juga menjadikan masyarakat adat sebagai subjek utama dalam produksi dan validasi pengetahuan tentang dirinya sendiri.

Penulisan Sejarah Sub Suku Usba

Penulisan sejarah Sub Suku Usba lahir dari kesadaran kolektif dari masyarakat Usba melalui Dewan Adat Sub Suku Usba untuk merekam jejak, meneguhkan identitas, dan menyalakan kembali ingatan tentang akar-akar kebudayaan. Upaya ini bukan semata pencatatan peristiwa masa lalu, tetapi juga merupakan perjalanan pengetahuan. Penulisan sejarah ini menjadi bagian dari proses repatriasi pengetahuan: mengembalikan kisah ke asalnya, dan memastikan bahwa ingatan kolektif tetap hidup dalam generasi masa kini dan mendatang. Kerja penulisan dilakukan selama 6 bulan, yang terdiri dari proses riset, studi kepustakaan dan historiografi. Tim penulis terdiri dari peneliti kebudayaan Lisa Febriyanti, R.D. Mahendra Uttunggadewa yang didukung oleh generasi muda Usba Hilton Rumbewas, Matias Daud Rumbewas, Franz Meru Mambrisauw, Almendo Imbir, Matius Imbir, dan fotografer F. Alves Fonataba. Di bawah payung Institut USBA, karya-karya sejarah ini disusun dengan semangat keterbukaan, kolaborasi, dan penghormatan terhadap adat. Mengundang Dewan Adat Suku Byak Sebelum riset buku dimulai, Dewan Adat Sub Suku Usba menyelenggarakan rapat kerja pengurus untuk menginisiasi jalannya riset. Dalam rapat kerja tersebut, hadir Dewan Adat Suku Byak yang memberikan wawasan awal kebudayaan Byak. Seperti diketahui, sebagian besar leluhur masyarakat Usba berasal dari Pulau Biak. Wawasan ini menjadi konteks riset yang penting untuk memahami motivasi migrasi dan kesejarahan suku Byak. Wawancara Tiap Marga Salah satu kegiatan utama yang dilakukan adalah wawancara mendalam dengan tiap marga yang tergabung dalam struktur sosial masyarakat Usba. Kegiatan ini dilaksanakan secara bertahap di berbagai kampung dan pulau di wilayah Kepulauan Ayau, Meosbekwan dan Rauki, dengan melibatkan para tetua adat, kepala marga, dan generasi muda. Wawancara dilakukan dengan pendekatan partisipatif dan kultural, menempatkan narasumber bukan sekadar sebagai pemberi informasi, tetapi sebagai penjaga pengetahuan (knowledge keeper) yang memelihara memori kolektif marga masing-masing. Setiap marga memiliki kisah asal-usul, perjalanan leluhur, dan hubungan genealogis yang unik, sehingga proses wawancara menjadi sarana penting untuk memahami mosaik sejarah Sub Suku Usba secara utuh. Merajut Kisah dari Pulau ke Pulau Observasi dan wawancara selama lebih dari 14 hari dengan mengitari Kepulauan Raja Ampat. Melakukan perjalanan lintas pulau, di mana tim penulis mendatangi komunitas dan suku-suku lain yang memiliki keterkaitan sejarah dengan Usba. Perjalanan ini dilakukan ke sejumlah pulau di gugusan Ayau, juga kampung-kampung di Kabare, Saleo, Arborek, Meosmansar, Yenbuba, Warsamdin, Arefi, Sop, Doom dan Sorong, yang masih menyimpan jejak hubungan genealogis dan kultural dengan masyarakat Usba. Perjalanan penulisan buku ini menempuh 27 titik lokasi kampung dan kota dengan mengambil data dari 68 narasumber secara komprehensif. Tujuan utamanya ialah menelusuri jejaring asal-usul (network of origins), bagaimana para leluhur Usba berinteraksi, membentuk ikatan perkawinan, pertukaran pengetahuan, dan hubungan dagang maupun spiritual dengan suku-suku lain. Sekilas Konten Buku Buku ini berisi berhasil disusun sebagai dokumentasi awal dan catatan memori kolektif masyarakat USBA. Salah satu kerja berharga yang dilakukan tim penulis adalah menyusun genealogi masing-masing narasumber dan menyatukannya menjadi satu peta besar jaringan kekerabatan Usba. Selain itu pengetahuan lain yang berhasil disusun dalam buku ini antara lain: Informasi lebih lanjut seputar isi dan pemesanan buku dapat dilakukan dengan menghubungi email: institut.usba@gmail.com

Institut Usba Selenggarakan Peluncuran dan Bedah Buku “Rekonstruksi Sub Suku Usba di Raja Ampat”

Jakarta, 28 April 2025 Institut Usba menyelenggarakan kegiatan peluncuran dan bedah buku Rekonstruksi Sub Suku Usba di Raja Ampat pada 28 April 2025 di Ruang Media Center Lantai 2 Perpustakaan Nasional RI, Jalan Medan Merdeka Barat Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan Charles Imbir, Ketua Dewan Adat Sub Suku Usba sebagai keynote speaker, dan narasumber Lisa Febriyanti (penulis buku), Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M.Hum (Guru Besar Sejarah Universitas Indonesia) dan Albert Rumbekwan, S.Pd, M.Hum (sejarawan Universitas Cenderawasih). Kegiatan ini dilaksanakan secara hibrid, luring dan daring melalui media zoom. Puluhan peserta dari berbagai elemen, termasuk mahasiswa hadir dalam kegiatan ini. Charles Imbir pada kesempatan tersebut menegaskan pentingnya pendekatan adat untuk menyelesaikan berbagai polemik yang terjadi di Papua. Kaitannya dengan sejarah adat, Charles mengungkapkan, “Sejarah adalah pengingat, perekat dan penguat, sehingga menjadi hal yang perlu ditelusuri dan dinyatakan.” Buku Rekonstruksi Sejarah Sub Suku Usba di Raja Ampat, menurut Charles merupakan salah satu agenda kerja dari Dewan Adat Sub Suku Usba yang mulai dilaksanakan pada Juli tahun lalu. Buku ini merupakan langkah awal Dewan Adat Sub Suku Usba dalam penelusuran sejarah mereka dan diharapkan dapat menjadi sebuah cahaya kecil untuk menerangi keburaman sejarah leluhur karena pemilik kisah sejarah yang sudah mulai hilang. Charles berharap, langkah awal yang dimulai dari Usba ini bisa mendorong komunitas adat lainnya juga dapat melakukan penelusuran sejarah, sehingga membawa terang pada peradaban Papua. Lisa Febriyanti, salah satu penulis buku Rekonstruksi Sejarah Sub Suku Usba memaparkan bagaimana proses pembuatan buku ini dilaksanakan. Data didapatkan berdasarkan memori kolektif dari semua marga, keret dan sim yang tergabung dalam Usba. Penggalian data dilakukan dengan perjalanan dan observasi di 27 titik lokasi dan mewawancari 62 narasumber. Sebagai informasi, ada 5 marga dalam Usba, yaitu: Burdam, Imbir, Mambrisauw, Rumbewas dan Umpes. Di tiap marga terdapat beberapa keret di dalamnya. Dalam ‘rumah’ marga Burdam terdiri dari: Awom, Kakiom, Marauw, Marauw Moro, Obinaru, Sanonbu, Wakrey dan Wayam. Di dalam ‘rumah’ Imbir terdiri dari: Buli, Matolowat dan Sanoi. Di dalam ‘rumah’ marga Mambrisauw terdapat: Mambrisauw, Mamoribo, Numfor dan Sauyai. Di dalam ‘rumah’ marga Rumbewas terdapat: Ambai, Awek, Wekrus dan Umpaim. Di dalam ‘rumah’ marga Umpes terdapat: Amberbaken, Dimalaha dan Mawen. Menurut Lisa, Usba merupakan simbol dari persatuan dari berbagai tanah dan darah. Dalam penelurusan tim penulis menemukan jejak sejarah leluhur Usba, meskipun saat ini berbahasa Byak dialek Usba, berasal dari Pulau Biak, Pulau Ambai, Sungai Mamberamo, Supiori, Numfor, Amberbaken, Pulau Gebe, Kampung Buli (Halmahera) dan juga Kaliraja di Waigeo. Leluhur Usba dari tanah kelahiran masing-masing kemudian melakukan diaspora dengan berbagai motivasinya dan melalui berbagai rangkaian peristiwa bergabung dan menyatu menjadi Usba yang terbentuk dan membentuk kebudayaan di Raja Ampat. Lisa juga menjelaskan, proses perjalanan pembentukan Usba terjadi di masa perkembangan peristiwa perdagangan rempah, kontestasi Kerajaan Ternate dan Tidore, serta perang kolonial. Di tengah situasi yang demikian, selain persatuan, Usba juga menyiratkan sebuah perjuangan yang dilalui oleh leluhur Usba hingga menjadi Usba yang sekarang. Buku ini menggambarkan rangkaian proses pembentukan Usba, termasuk di dalamnya penguatan data-data yang mendukung dari memori kolektif dan dokumen-dokumen perjalanan dari penjelajah Eropa di masa itu, serta sumber-sumber dari catatan Kerajaan Tidore. Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M.Hum menanggapi apa yang disampaikan oleh buku ini merupakan micro history, sejarah dari orang-orang kecil yang tidak ditulis di buku sejarah tetapi merupakan bagian penting dari sejarah yang selama ini tidak banyak ditengok oleh peneliti. Prof. Susanto menguatkan, bahwa dalam Sumpah Pemuda tahun 1928, tidak hanya menyuarakan tentang tanah, air dan bahasa tetapi juga diikat oleh hukum adat. Sementara itu, Albert Rumbekwan, S.Pd, M.Hum memaparkan tentang diaspora oeang Biak ke berbagai tempat dan salah satunya adalah di wilayah Raja Ampat. Menurut Albert, diaspora orang Byak yang masih didukung oleh teknologi perahu, pengetahuan navigasi perbintangan. Kemampuan bahari orang Byak juga memperlihatkan struktur pembagian kerja yang tertata dalam manajemen pelayaran termasuk pembagian tugas yang spesifik antar bagian dalam perahu untuk berlayar. Hal ini membuat orang Byak memiliki kemampuan tinggi dalam pelayaran dan menempuh rute hingga ke berbagai tempat termasuk ke Raja Ampat. Tentang Nama Usba Tentang kata Usba, menjadi pembahasan yang ditanyakan oleh peserta diskusi. Dalam temuan, nama Usba memiliki ragam arti, ada yang menyebutnya berasal dari kata Ursba yang berarti “tidak ada urusan lagi” , ada lagi yang menyatakan artinya adalah “tidak menyusul”, atau tidak ada keributan. Menanggapi hal ini, Prof. Susanto yang telah membaca buku tersebut mengungkapkan, Usba dapat juga dikatakan sebagai ‘perdamaian’ dimana tidak ikut lagi berbagai urusan keributan. Motivasi diaspora yang umumnya dikarenakan oleh kesulitan baik karena bencana alam, perang atau perselisihan membawa orang-orang yang berdiaspora mengingini kehidupan yang damai. Sementara itu, Mahendra Uttunggadewa, salah seorang penulis buku Rekonstruksi Sejarah Sub Suku Usba di Raja Ampat menanggapi ragamnya makna Usba menyatakan, “Keragaman ini justru baik dalam menggambarkan pluralitas dan tidak perlu direduksi menjadi makna tunggal yang justru mengurangi makna aslinya. Ini menunjukkan kekayaan unsur dalam Usba yang tidak harus diseragamkan.” Secara waktu, nama Usba ditemukan pada abad 15 terkait relasi dengan Kerajaan Tidore, pada abad 17 dan 18 juga disebutkan dalam catatan dan dokumen penjelajah Eropa ke Indonesia Timur. Pentingnya Penulisan Sejarah Ketua Dewan Adat Papua, Dominikus Surabut yang hadir langsung di lokasi acara menyampaikan bahwa apa yang telah diinsiasi oleh Dewan Adat Sub Suku Usba juga telah menjadi agenda penting bagi Dewan Adat Papua. Wilayah Papua merupakan tempat ratusan adat tumbuh dan berkembang yang tetap hidup hingga saat ini. Karena itu, Dominikus menegaskan, bagi Dewan Adat Papua, penelitian terkait Papua haruslah melibatkan pihak adat, dengan demikian penelitian itu menjadi sah adanya. Saat ini Dominikus juga menyerukan komunitas adat lain untuk melakukan penelusuran sejarahnya untuk mengangkat tentang pentingnya adat dan tradisi dalam kehidupan masyarakat Papua. Selain Dominikus, hadir pula di lokasi acara generasi muda dari Usba dan Jimmy Bronx musisi berdarah Raja Ampat yang tinggal di Jakarta, menyatakan kebahagiaan atas kelahiran buku ini dan merasakan perlunya generasi muda mengetahui tentang sejarah mereka agar tidak tercerabut dari akarnya. Prof. Susanto yang juga saat ini tengah mengerjakan buku Sejarah Nasional Indonesia, dengan adanya informasi dari buku ini menyatakan akan memasukkan kisah dari Sub Suku Usba sebagai salah satu narasi dalam buku Sejarah Nasional Indonesia. Menurut Prof. Susanto perjalanan sejarah Usba …

Pelestarian Budaya Usba: Buku Sejarah dari Pulau ke Pulau

Bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan 10 November, Dewan Adat Sub Suku Usba telah menyelesaikan dan menerbitkan buku sejarah perjalanan Sub Suku Usba di Raja Ampat berjudul Merajut Kisah dari Pulau ke Pulau, Rekonstruksi Sejarah Sub Suku Usba di Raja Ampat. Sub Suku Usba merupakan salah satu rumpun suku berbahasa Byak dan bertempat tinggal di Raja Ampat. Usba memiliki sejarah panjang yang kisahnya jalin menjalin di antara translokasi Suku Byak (dari Pulau Biak), Suku Daam (dari Kaliraja), dan suku-suku lain dari kepulauan Maluku. Sayangnya, generasi hari ini banyak kehilangan jejak sejarah perjalanan leluhur mereka, yang mengakibatkan jati diri mereka pun kehilangan akarnya. Menyikapi hal ini, dalam rapat kerja Dewan Adat Sub Suku Usba di tahun 2022 memutuskan untuk mulai menyusun kisah sejarah perjalanan Usba dalam sebuah buku. Sejak itu, upaya penyusunan buku dilakukan, termasuk berkoordinasi dengan Kankain Karkara Byak (Dewan Adat Byak) dan Kesultanan Tidore. Kedua entitas budaya ini lekat kaitannya dengan perjalanan Usba, sehingga penulisan buku ini menjadi lebih komprehensif. Pada Juli 2024, perjalanan penulisan mulai dilakukan dengan menerjunkan tim penulis melakukan wawancara, observasi dari pulau ke pulau yang ditengarai sebagai jejak sejarah Usba dilakukan. Observasi dilakukan di 27 titik lokasi berbagai pulau di Raja Ampat dan mewawancarai 62 narasumber, yang terdiri dari masyarakat Sub Suku Usba, dan masyarakat suku lain baik di Raja Ampat maupun Biak yang memiliki relasi sejarah dengan Usba. Tim penulis juga melakukan penggalian data dari sejarawan dan studi pustaka, termasuk dokumen-dokumen kuno yang pernah ditulis oleh etnografer dan penjelajah berkebangsaan Eropa di Raja Ampat. Charles Imbir, Ketua Dewan Adat Sub Suku Usba menjelaskan, “Buku ini merupakan salah satu agenda kerja Dewan Adat Sub Suku Usba. Sejarah menjadi penting untuk dipelajari kembali oleh generasi muda kita, agar kita juga bisa belajar dari pengalaman leluhur. Tanpa sejarah, kita tidak akan bisa kemana-mana. Pengetahuan tentang sejarah adalah titik anjak untuk kemajuan bersama.” Melalui kata sambutannya dalam buku, Charles Imbir memaparkan bahwa melihat dari hasil penelusuran jejak sejarah leluhur Usba, semuanya saling terkait oleh relasi persaudaraan dan kepentingan yang sama. Buku ini juga menunjukkan, suku-suku di Raja Ampat pun telah saling menjalin relasi persaudaraan sejak lama. Hal ini tentu saja menjadi landasan untuk memacu kebersamaan maju untuk Raja Ampat secara keseluruhan. Sebagai buku sejarah, buku ini juga dilengkapi dengan peta-peta perjalanan, silsilah-silsilah keluarga, warisan tradisi dan kisah-kisah berdasarkan memori kolektif para masyarakat Usba. Oleh penulis kemudian diperkuat dengan kontekstualisasi peristiwa-peristiwa sejarah di masa itu, yang ternyata terkait dengan perjalanan Usba. “Dari perjalanan masyarakat Usba, kita bisa melihat lalu lintas individu-individu yang secara sepintas terlihat seperti perjalanan yang terpisah, ternyata ada dalam sebuah konteks sejarah besar Indonesia, termasuk perdagangan dan pertukaran rempah serta wewangian terkait jalur rempah, dan juga keramik Cina serta burung cenderawasih di perairan Timur Indonesia pada era kolonialisme,” ungkap anggota penulis buku, Mahendra Uttunggadewa. Buku ini secara khusus diwujudkan sebagai amanah Dewan Adat Sub Suku Usba yang bekerja sebagai penjaga dan pelestari adat, merupakan buku pertama yang bercerita tentang Usba secara mendalam dan secara umum menjadi sumbangan bagi sejarah peradaban manusia di wilayah Indonesia Timur.***

Gutenberg Sample Post

This is some dummy copy. You’re not really supposed to read this dummy copy, it is just a placeholder for people who need some type to visualize what the actual copy might look like if it were real content. If you want to read, I might suggest a good book, perhaps Melville. That’s why they call it, the dummy copy. This, of course, is not the real copy for this entry. Rest assured, the words will expand the concept. With clarity. Conviction. And a little wit. In today’s competitive market environment, the body copy of your entry must lead the reader through a series of disarmingly simple thoughts. All your supporting arguments must be communicated with simplicity and charm. And in such a way that the reader will read on. (After all, that’s a reader’s job: to read, isn’t it?) And by the time your readers have reached this point in the finished copy, you will have convinced them that you not only respect their intelligence, but you also understand their needs as consumers. As a result of which, your entry will repay your efforts. Take your sales; simply put, they will rise. Likewise your credibility. There’s every chance your competitors will wish they’d placed this entry, not you. While your customers will have probably forgotten that your competitors even exist. Which brings us, by a somewhat circuitous route, to another small point, but one which we feel should be raised. This is dummy copy. It is not meant to be read. Accordingly, it is difficult to figure out when to end it. If this were real copy, it would have ended long ago, because‚ as we all know‚ no one reads body copy, and even fewer read body copy this long. But then, this is dummy copy. It is not meant to be read. Period.

Testing the Elements

This is some dummy copy. You’re not really supposed to read this dummy copy, it is just a place holder for people who need some type to visualize what the actual copy might look like if it were real content. If you want to read, I might suggest a good book, perhaps Hemingway or Melville. That’s why they call it, the dummy copy. This, of course, is not the real copy for this entry. Rest assured, the words will expand the concept. With clarity. Conviction. And a little wit. In today’s competitive market environment, the body copy of your entry must lead the reader through a series of disarmingly simple thoughts. Gallery Fullscreen Image Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Aenean eu leo quam. Pellentesque ornare sem lacinia quam venenatis vestibulum. Donec ullamcorper nulla non metus auctor fringilla. All your supporting arguments must be communicated with simplicity and charm. And in such a way that the reader will read on. (After all, that’s a reader’s job: to read, isn’t it?) And by the time your readers have reached this point in the finished copy, you will have convinced them that you not only respect their intelligence, but you also understand their needs as consumers.

Post with YouTube Video

This is some dummy copy. You’re not really supposed to read this dummy copy, it is just a place holder for people who need some type to visualize what the actual copy might look like if it were real content. If you want to read, I might suggest a good book, perhaps Hemingway or Melville. That’s why they call it, the dummy copy. This, of course, is not the real copy for this entry. Rest assured, the words will expand the concept. With clarity. Conviction. And a little wit. In today’s competitive market environment, the body copy of your entry must lead the reader through a series of disarmingly simple thoughts. All your supporting arguments must be communicated with simplicity and charm. And in such a way that the reader will read on. (After all, that’s a reader’s job: to read, isn’t it?) And by the time your readers have reached this point in the finished copy, you will have convinced them that you not only respect their intelligence, but you also understand their needs as consumers.

Post with Slideshow

Below is an example of a Slideshow Block which is included in the free Jetpack Plugin. See more details about this block here. This is some dummy copy. You’re not really supposed to read this dummy copy, it is just a place holder for people who need some type to visualize what the actual copy might look like if it were real content. If you want to read, I might suggest a good book, perhaps Hemingway or Melville. That’s why they call it, the dummy copy. This, of course, is not the real copy for this entry. Rest assured, the words will expand the concept. With clarity. Conviction. And a little wit.

Post with Vimeo Video

This is some dummy copy. You’re not really supposed to read this dummy copy, it is just a place holder for people who need some type to visualize what the actual copy might look like if it were real content. If you want to read, I might suggest a good book, perhaps Hemingway or Melville. That’s why they call it, the dummy copy. This, of course, is not the real copy for this entry. Rest assured, the words will expand the concept. With clarity. Conviction. And a little wit. In today’s competitive market environment, the body copy of your entry must lead the reader through a series of disarmingly simple thoughts.  

Aero Photography

This is some dummy copy. You’re not really supposed to read this dummy copy, it is just a place holder for people who need some type to visualize what the actual copy might look like if it were real content. If you want to read, I might suggest a good book, perhaps Melville. That’s why they call it, the dummy copy. This, of course, is not the real copy for this entry. Rest assured, the words will expand the concept. With clarity. Conviction. And a little wit. In today’s competitive market environment, the body copy of your entry must lead the reader through a series of disarmingly simple thoughts. All your supporting arguments must be communicated with simplicity and charm. And in such a way that the reader will read on. (After all, that’s a reader’s job: to read, isn’t it?) And by the time your readers have reached this point in the finished copy, you will have convinced them that you not only respect their intelligence, but you also understand their needs as consumers. As a result of which, your entry will repay your efforts. Take your sales; simply put, they will rise. Likewise your credibility. There’s every chance your competitors will wish they’d placed this entry, not you. While your customers will have probably forgotten that your competitors even exist. Which brings us, by a somewhat circuitous route, to another small point, but one which we feel should be raised.