KAMPUNG DOREHKAR — Di dalam sebuah ruang kelas yang sederhana di Kampung Dorehkar, Kepulauan Ayau, suasana diskusi terasa begitu hidup pada 11–12 Agustus 2026. Di meja yang ditata berbentuk U, duduk berdampingan para guru sekolah, pemuda-pemudi Usba, perwakilan dari lima marga Usba, dan Kepala Adat. Di hadapan mereka bukan tersaji buku-buku pelajaran standar dari perkotaan, melainkan ingatan dan catatan musim, peta wilayah pesisir, serta daftar nama-nama biota laut dan tumbuhan dalam bahasa Byak-Usba.
Pelatihan pendidikan lingkungan selama dua hari yang difasilitasi oleh Institut USBA dengan dukungan Blue Abadi Fund (BAF) Hibah siklus 6, menandai babak penting dalam upaya menyusun materi pendidikan lingkungan serta konservasi yang berpijak langsung dari rahim pengetahuan lokal Sub Suku Usba. Langkah ini lahir dari kesadaran bersama bahwa ruang kelas formal selama ini sering kali berjalan terasing dari realitas ekologis dan kultural tempat anak-anak Usba tumbuh besar.
Di dalam proses ini, mengemuka dua hal secara simultan. Pertama, transfer pengetahuan adat dari Kepala Adat dam pemimpin marga yang hadir. Kedua, pentingnya implementasi pendidikan lingkungan hidup pada anak-anak sekolah. Yang menarik, proses ini berjalan bukan dengan satu arah, semua peserta, sebanyak 30 orang duduk bersama dan belajar bersama. Bukan dari ketidaktahuan, tetapi justru dari pengalaman masyarakat sendiri.
Mendekolonisasi Pengetahuan: Belajar dari Masyarakat Adat, Bukan Mengajari Mereka
Institut Usba yang bertindak sebagai fasilitator, tidak hadir sebagai yang paling mengetahui, justru mengetengahkan pengalaman yang dimiliki oleh semua peserta sebagai sumber dari pengetahuan, Prinsip ini dekat dengan dekolonisasi pengetahuan. Pendidikan lingkungan hidup selama ini kerap dibayangkan sebagai proses menyampaikan pengetahuan kepada masyarakat. Seolah-olah, untuk memahami dan menjaga lingkungannya, masyarakat perlu terlebih dahulu menerima pengetahuan dari luar. Cara pandang ini perlu ditinjau kembali, terutama ketika berhadapan dengan masyarakat adat yang telah membangun pengetahuan tentang alam melalui pengalaman panjang, praktik sehari-hari, serta pewarisan antargenerasi.
Dalam konteks inilah, pendidikan lingkungan hidup dan konservasi adat menjadi bagian dari upaya dekolonisasi pengetahuan. Dekolonisasi bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan lokal agar tersimpan dalam dokumen, melainkan juga mengubah relasi yang menentukan pengetahuan siapa yang dianggap sah, siapa yang berhak menjelaskan alam, dan pengetahuan siapa yang dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan.

Pengetahuan masyarakat adat bukan sekadar pelengkap bagi pengetahuan ilmiah modern. Keduanya tumbuh melalui proses, pengalaman, dan cara memahaDalam sesi mi dunia yang berbeda, tetapi dapat saling memperkaya. Karena itu, pendekatan yang setara perlu memberi ruang bagi pengetahuan adat untuk hadir dengan konteks, nilai, dan cara pemahamannya sendiri, bukan hanya diterjemahkan ke dalam kerangka pengetahuan dari luar.
Peran Institut USBA adalah memfasilitasi pertukaran pengetahuan, mempertemukan pengalaman dan pemahaman yang hidup di tengah masyarakat, serta mendukung proses yang memungkinkan pengetahuan tersebut terus berkembang dan diwariskan.
Melalui perjumpaan antara para pemimpin adat tiap marga, kelompok pemuda, kelompok pemudi, dan guru, pengetahuan tentang alam memperoleh ruang untuk dibagikan dan dihubungkan dengan pendidikan serta aksi konservasi. Keterlibatan kelompok-kelompok ini juga membuka peluang agar pengetahuan adat tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi tetap hadir dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi bagian dari cara generasi muda memahami serta merawat lingkungannya.
Guru dan Pemuda Membicarakan Pendidikan Lingkungan
Keterlibatan guru dalam kegiatan tersebut berkaitan dengan kebutuhan menghadirkan contoh pembelajaran yang sesuai dengan kehidupan anak-anak Ayau. Dalam kegiatan ini juga disii dengan penyusunan materi pendidikan lingkungan untuk anak-anak sekolah dasar. Hasil pendokumentasian pengetahuan adat, peta wilayah, dan pertukaran pengetahuan dalam pelatihan ini dapat digunakan sebagai dasar untuk melanjutkan kegiatan pendidikan serta konservasi untuk anak-anak sekolah dasar.
Pewarisan pengetahuan juga tidak cukup berlangsung melalui buku dan pelajaran sekolah. Anak-anak memerlukan kesempatan mendengar cerita keluarga, mengenal tempat yang diterangkan para tetua, serta memahami pekerjaan masyarakat dalam memanfaatkan dan menjaga hasil laut. Pemuda dan pemudi dapat mengambil peran melalui kegiatan dokumentasi serta pengamatan lingkungan apabila tersedia pendampingan dan dukungan yang memungkinkan kegiatan tersebut berlanjut.
Di dalam konteks ini yang bisa digarisbawahi adalah, kesadaran untuk meneruskan pengetahuan adat yang berbasis konservasi kepada anak-anak sekolah. Para peserta guru yang terdiri dari guru SD, SMP hingga SMA bersama-sama menyusun konseptual implementasi pembelajaran lingkungan di sekolah. Dalam kelompok ini semua sepakat bahwa bahasa lokal akan diujicobakan sebagai pengantar dalam implementasi nanti. Hal ini disambut baik oleh para tetua adat yang mendapati bahwa anak-anak sudah tidak lagi menggunakan bahasa lokal sehari-hari.
Bahasa dan lingkungan, menurut para peserta adalah hal yang mendasar, oleh karena itu, sasaran traget implementasi ditetapkan adalah anak-anak sekolah dasar. Sementara itu, situasi kurangnya tenaga pendidik, terutama di Kampung Dorehkar menjadi perhatian yang serius. Menyikapi hal ini, para pemuda dan pemudi sigap mendukung untuk kegiatan implementasi nanti, membantu para guru melakukan pendidikan lingkungan untuk anak-anak sekolah dasar. Implementasi ini akan dilakukan di dua lokasi sekolah, yaitu SD YPK Silo Dorehkar dan SD YPK Elim Meosbekwan.
Kelompok pemuda dalam paparan akhirnya, sebagai rencana tindak lanjut dari pelatihan menyatakan bahwa patroli kawasan menjadi penting untuk menjaga alam. Selain itu, untuk menyalakan kembali api pengetahuan adat, mereka berkeinginan menyusun penanggalan adat yang berbasis musim, sehingga bisa menjadi pengetahuan tertulis yang akand iwariskan kepada generasi mendatang.
Kelompok pemudi, menyusun rencana tindak lanjut dengan mengedepankan pengolahan sumber pangan sebagai peningkatan ekonomi keluarga. Berdasarkan hasil dari berbagi pengetahuan di sesi awal di pelatihan ini, terungkap berbagai bahan pangan alam yang diolah secara berkelanjutan berpotensi meningkatkan kesehatan dan ekonomi keluarga.
Tidak hanya materi pendidikan lingkungan yang menjadi bahasan dalam kegiatan pelatihan, tenaga guru juga mendapatkan porsi khusus. Sejak awal tahuan 2026, Institut Usba yang menyadari kurangnya tenaga pendidikan, telah merespon hal ini dengan memberikan dukungan dana bagi tenaga pengjar di sekolah SD YPK Silo Dorehkar. Hal ini kemudian disikapi oleh Dewan Adat Sub Suku Usba yang juga ikut mendukung bantuan dana pendidikan agar proses belajar anak-anak bisa berjalan lancar.
Alam, budaya dan pendidikan menjadi aroma yang paling nikmat dari kegiatan pelatihan yang diselenggarakan. Seluruh peserta dengan berbagai pengalaman telah duduk bersama dan sepakat menyuarakan satu slogan dalam bahasa Usba: Mkorama, Kokam, Komamarek, Swan Ine (Mari Kita Sama-Sama Jaga Laut Ini).









