Otoritas, Pimpinan, dan Genealogi Papua
Penulis: Andi Tagihuma
Ilustrasi Komik: Andi Tagihuma | Ilustrasi Kamma: Institut USBA
Sa mo cerita tentang satu orang de pu nama Kamma. De ni peneliti Blanda yang dari tahun 1931 mulai mulai hidup di tengah masyarakat Papua — de bukan hanya tiba-tiba datang seperti tamu, tapi de tinggal dengan dorang, belajar dong pu bahasa, mengerti de pu adat yang susa-susa. Waktu itu, stiap hari de lagi dengar cerita-cerita dari para tua, cerita tentang mambri-mambri, cerita tentang bagaimana Papua dulu punya hubungan sama Tidore — satu kesultanan dari timur yang jauh.
Tapi apa yang paling bikin Kamma de penasaran tu bukan hanya fakta-fakta sejarah yang kering. De mo tau: bagaimana cara orang Papua sendiri berpikir tentang relasi kekuasaan ini? Apa yang dorang percaya? Apa yang dorang pahami tentang otoritas? Bagaimana dorang pu pemahaman itu hidup di dalam komunitas, di dalam percakapan sehari-hari, di dalam dong pu ritual tooo?
Sa bayangkan Kamma de ada duduk di para-para, mendengarkan cerita-cerita tua. Mungkin de pu tangan ada tulis catatan. Mungkin de lagi coba pahami sesuatu yang sulit di translate — bukan hanya dari bahasa Papua ke bahasa Belanda, tapi dari cara pikir Papua ke cara pikir Barat. Itu perjuangan yang berat skali eee.
Cerita-Cerita Lama dan Kebenaran yang Hidup
Kamma punya pengetahuan yang jarang. De tahun demi tahun belajar legenda-legenda Papua — bukan legenda yang ada di buku, tapi legenda yang masih hidup dalam orang tua dong pu ingatan, dalam ritual yang dorang lakukan, dalam dorang pu carta crita de pu asal-usul
Apa yang Kamma ketemu itu penting skali e: legenda itu bukan hanya cerita kosong yang tra pu arti. Legenda itu adalah jawaban Papua tentang pertanyaan-pertanyaan besar. Jawaban tentang darimana datangnya otoritas. Jawaban tentang siapa yang berhak pimpin. Jawaban tentang bagaimana hubungan Tidore sama Papua bisa terjadi dan bisa di terima.
Tapi ada satu hal yang harus sa jelaskan dulu: orang Papua itu tra berpikir macam orang Barat. Dorang tra perlu konsep-konsep yang susa, rumus-rumus yang panjang trus bisa masuk di pikiran. Dorang lebih suka pake visualisasi, representasi simbolis. Kalo ada satu kebenaran yang dorang ingin bilang, dorang kasi tau lewat crita, lewat gambar yang ada dalam dong pu kepala, lewat ritual yang penuh makna.
Inilah yang paling sulit dipahami oleh peneliti Barat: Papua pu cara bicara tentang otoritas bukan lewat teori, tapi lewat kisah. Dan kisah itu mempunyai kebenaran sendiri tooo.
Pertanyaan yang Harus Dijawab
Begini pertanyaannya yang benar-benar penting: Bagaimana cara kerja relasi kekuasaan antara Tidore sama Papua? Itu bukan hanya pertanyaan de jure (hukum formal yang tertulis). Itu juga pertanyaan de facto — apa yang benar-benar terjadi dalam kehidupan sehari-hari?
Dan pertanyaan yang lebih dalam lagi: Apa yang orang Papua percayai tentang otoritas itu sendiri? Dorang ada pikirkan apa tentang kepemimpinan? Bagaimana dorang mengerti hubungan antara pemimpin deng masyarakat?
Untuk jawab pertanyaan itu, sa tra bisa hanya lihat dokumen resmi. Dokumen tu penting, tapi tra lengkap. Sa harus masuk ke dalam dunia legenda. Sa harus dengarkan apa yang orang tua tu bilang. Sa mesti pahami psikologi Papua — cara dorang berpikir, cara dorang menceritakan kebenaran.
Struktur Masyarakat Papua: Komunal tapi Ada Batasan
Orang Papua itu hidup dalam struktur komunal yang sangat kuat. Komunitas itu bukan hanya tempat tinggal — de pu komunitas itu adalah identitas, adalah asal-usul, adalah segalanya. Tapi, ada satu masalah: komunitas itu juga merupakan batasan.
Setiap orang dalam komunitas itu ada de pu tempat masing-masing. Ada yang tua, ada yang muda. Ada yang laki-laki, ada yang perempuan. Tapi dalam sistem itu, satu individu tra bisa angkat diri sendiri lebih tinggi dari orang lain — tra bisa dengan sembarangan bilang “sa paling kuasa” atau “sa paling penting.”
Itu bukan cara Papua. Itu bukan etika komunal Papua.
Maka dari itu, masyarakat Papua punya sesuatu yang unik: dorang punya ritual yang susa untuk angkat satu individu ke level yang berbeda. Ritual inisiasi — ya, itu ritus-ritus yang panjang, yang sakit, yang sakral. Lewat ritual itu, barulah satu orang diakui punya status yang lebih tinggi. Barulah de bisa jadi representant dari sesuatu yang lebih besar.
Otoritas sebagai Representasi: Inilah Inti Masalahnya
Sa coba bayangkan satu pemimpin Papua — satu kepala suku atau satu tetua keluarga. De pu kekuasaan itu — dari mana datangnya? Bukan dari de pu kekuatan sendiri. Bukan karena de paling besar atau paling pintar atau paling kaya.
Kekuasaan itu datang karena de adalah representant. Representant dari apa? Dari kekuatan yang lebih tinggi. Dari leluhur. Dari roh-roh. Dari tempat yang sakral. Dari tatanan kosmos yang lebih besar dari sekadar komunitas biasa.
Inilah yang paling penting untuk dimengerti: Otoritas dalam masyarakat Papua berdiri karena kapasitas representasi. Seorang pemimpin itu valid — de pu kekuasaan itu diterima — karena dorang percaya de bisa bicara atas nama sesuatu yang lebih tinggi.
Kalo de tra pu kapasitas representasi itu hilang, otoritasnya jatuh. Kalo ritual inisiasi itu tra lengkap, pengakuan itu tra sah. Kalo de tra punya hubungan sama leluhur, de tra punya legitimasi untuk pimpin.
Genealogi Bukan Hanya Nama: De Itu Otoritas
Di sinilah pentingnya stamboom — genealogi — dalam struktur Papua. Genealogi itu bukan hanya daftar nama yang trada guna. Genealogi itu cerita tentang dari mana datangnya otoritas satu keluarga.
Genealogi itu bukti bahwa keluarga ini punya koneksi sama leluhur, sama tempat sakral, sama tatanan yang lebih tinggi.
Waktu Kamma de blajar genealogi, de bukan hanya kumpulin nama-nama. De baru mulai mengerti bagaimana orang Papua berpikir tentang kekuasaan. De mulai pahami bahwa otoritas itu bukan sesuatu yang bisa diambil atau dijual. Otoritas itu sesuatu yang diwariskan, yang dilestarikan, yang harus dijaga melalui ritual dan ingatan.
Itulah sebabnya legenda itu penting. Legenda itu bukan sekadar cerita lama. Legenda itu adalah mekanisme untuk menjaga genealogi tetap hidup. Legenda itu adalah cara Papua untuk ceritakan: “Ini adalah otoritas kita. Ini adalah asal-usul kita. Ini adalah yang membenarkan kepemimpinan kita tooo.”
Catatan Peneliti yang Kehilangan Dokumen
Ada satu detail yang sangat tragis dalam cerita Kamma. Semua de pu catatan — semua dokumen yang sudah de kumpulkan bertahun-tahun — semuanya dirampas oleh tentara Jepang waktu perang. Jadi, apa yang Kamma ceritakan kepada dunia, itu bukan hanya dari dokumen. Banyak di antaranya berasal dari de pu ingatan. Dari apa yang de masih bisa ingat. Dari apa yang masih tasimpan dalam de pu pikiran.
Itu yang bikin Kamma pu penelitian itu unik tapi juga sulit. De tra bisa bilang “itu di halaman berapa.” De tra bisa menunjuk dokumen asli. De harus percaya pada de pu memori, pada de pu pemahaman mendalam tentang masyarakat Papua.
Tapi mungkin, dalam hal ini, kehilangan dokumen itu justru membuat Kamma lebih dekat pada kebenaran Papua sendiri. Karena kebenaran Papua itu memang hidup dalam ingatan — dalam oral tradition, dalam cerita yang diulang, dalam legenda yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kesimpulan yang Terbuka: Apa Arti Otoritas, Sebenarnya?
Jadi, kalo kitorang tanya: “Bagaimana orang Papua memahami otoritas?” Jawaban yang paling jujur adalah: Otoritas adalah kapasitas untuk merepresentasikan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.
Seorang pemimpin Papua itu sah — de pu kekuasaan itu legitimate — karena dorang (masyarakat) percaya de bisa berbicara atas nama leluhur, atas nama komunitas yang lebih luas, atas nama tatanan sakral yang melampaui kehidupan sehari-hari.
Itulah mengapa struktur sosial Papua itu komunal tapi juga punya hierarki. Itulah mengapa ritual inisiasi itu penting — ritual itu adalah proses di mana individu baru diakui sebagai representant yang sah. Itulah mengapa genealogi itu bukan sekadar daftar nama — genealogi itu adalah bukti legitimasi, bukti koneksi ke kekuatan yang lebih tinggi.
Dan mungkin, inilah yang paling penting untuk dipahami oleh dunia Barat: Papua itu punya cara tersendiri untuk berpikir tentang otoritas. Cara itu bukan tra baek, bukan primitif, bukan kurang masuk akal. Cara itu berbeda. Cara itu lebih dalam dari sekadar logika formal. Cara itu menghubungkan dunia sosial sama dunia sakral. Cara itu membuat otoritas itu something yang hidup, something yang bisa dirasakan, something yang bermakna dalam kehidupan komunitas.
Pertanyaan yang harus kitorang tanya sendiri: Apa yang kitorang bisa pelajari dari cara Papua memahami otoritas? Apa yang hilang ketika kitorang hanya pake cara Barat untuk pikir tentang kekuasaan dan kepemimpinan?
Legenda Papua, melalui Kamma, sudah menjawab pertanyaan ini. Sekarang saatnya kitorang dengarkan apa yang dorang ceritakan tooo.***

