Jakarta, 28 April 2025
Institut Usba menyelenggarakan kegiatan peluncuran dan bedah buku Rekonstruksi Sub Suku Usba di Raja Ampat pada 28 April 2025 di Ruang Media Center Lantai 2 Perpustakaan Nasional RI, Jalan Medan Merdeka Barat Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan Charles Imbir, Ketua Dewan Adat Sub Suku Usba sebagai keynote speaker, dan narasumber Lisa Febriyanti (penulis buku), Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M.Hum (Guru Besar Sejarah Universitas Indonesia) dan Albert Rumbekwan, S.Pd, M.Hum (sejarawan Universitas Cenderawasih).
Kegiatan ini dilaksanakan secara hibrid, luring dan daring melalui media zoom. Puluhan peserta dari berbagai elemen, termasuk mahasiswa hadir dalam kegiatan ini.
Charles Imbir pada kesempatan tersebut menegaskan pentingnya pendekatan adat untuk menyelesaikan berbagai polemik yang terjadi di Papua. Kaitannya dengan sejarah adat, Charles mengungkapkan, “Sejarah adalah pengingat, perekat dan penguat, sehingga menjadi hal yang perlu ditelusuri dan dinyatakan.”
Buku Rekonstruksi Sejarah Sub Suku Usba di Raja Ampat, menurut Charles merupakan salah satu agenda kerja dari Dewan Adat Sub Suku Usba yang mulai dilaksanakan pada Juli tahun lalu. Buku ini merupakan langkah awal Dewan Adat Sub Suku Usba dalam penelusuran sejarah mereka dan diharapkan dapat menjadi sebuah cahaya kecil untuk menerangi keburaman sejarah leluhur karena pemilik kisah sejarah yang sudah mulai hilang. Charles berharap, langkah awal yang dimulai dari Usba ini bisa mendorong komunitas adat lainnya juga dapat melakukan penelusuran sejarah, sehingga membawa terang pada peradaban Papua.
Lisa Febriyanti, salah satu penulis buku Rekonstruksi Sejarah Sub Suku Usba memaparkan bagaimana proses pembuatan buku ini dilaksanakan. Data didapatkan berdasarkan memori kolektif dari semua marga, keret dan sim yang tergabung dalam Usba. Penggalian data dilakukan dengan perjalanan dan observasi di 27 titik lokasi dan mewawancari 62 narasumber.
Sebagai informasi, ada 5 marga dalam Usba, yaitu: Burdam, Imbir, Mambrisauw, Rumbewas dan Umpes. Di tiap marga terdapat beberapa keret di dalamnya. Dalam ‘rumah’ marga Burdam terdiri dari: Awom, Kakiom, Marauw, Marauw Moro, Obinaru, Sanonbu, Wakrey dan Wayam. Di dalam ‘rumah’ Imbir terdiri dari: Buli, Matolowat dan Sanoi. Di dalam ‘rumah’ marga Mambrisauw terdapat: Mambrisauw, Mamoribo, Numfor dan Sauyai. Di dalam ‘rumah’ marga Rumbewas terdapat: Ambai, Awek, Wekrus dan Umpaim. Di dalam ‘rumah’ marga Umpes terdapat: Amberbaken, Dimalaha dan Mawen.
Menurut Lisa, Usba merupakan simbol dari persatuan dari berbagai tanah dan darah. Dalam penelurusan tim penulis menemukan jejak sejarah leluhur Usba, meskipun saat ini berbahasa Byak dialek Usba, berasal dari Pulau Biak, Pulau Ambai, Sungai Mamberamo, Supiori, Numfor, Amberbaken, Pulau Gebe, Kampung Buli (Halmahera) dan juga Kaliraja di Waigeo. Leluhur Usba dari tanah kelahiran masing-masing kemudian melakukan diaspora dengan berbagai motivasinya dan melalui berbagai rangkaian peristiwa bergabung dan menyatu menjadi Usba yang terbentuk dan membentuk kebudayaan di Raja Ampat.
Lisa juga menjelaskan, proses perjalanan pembentukan Usba terjadi di masa perkembangan peristiwa perdagangan rempah, kontestasi Kerajaan Ternate dan Tidore, serta perang kolonial. Di tengah situasi yang demikian, selain persatuan, Usba juga menyiratkan sebuah perjuangan yang dilalui oleh leluhur Usba hingga menjadi Usba yang sekarang.
Buku ini menggambarkan rangkaian proses pembentukan Usba, termasuk di dalamnya penguatan data-data yang mendukung dari memori kolektif dan dokumen-dokumen perjalanan dari penjelajah Eropa di masa itu, serta sumber-sumber dari catatan Kerajaan Tidore.
Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M.Hum menanggapi apa yang disampaikan oleh buku ini merupakan micro history, sejarah dari orang-orang kecil yang tidak ditulis di buku sejarah tetapi merupakan bagian penting dari sejarah yang selama ini tidak banyak ditengok oleh peneliti. Prof. Susanto menguatkan, bahwa dalam Sumpah Pemuda tahun 1928, tidak hanya menyuarakan tentang tanah, air dan bahasa tetapi juga diikat oleh hukum adat.
Sementara itu, Albert Rumbekwan, S.Pd, M.Hum memaparkan tentang diaspora oeang Biak ke berbagai tempat dan salah satunya adalah di wilayah Raja Ampat. Menurut Albert, diaspora orang Byak yang masih didukung oleh teknologi perahu, pengetahuan navigasi perbintangan. Kemampuan bahari orang Byak juga memperlihatkan struktur pembagian kerja yang tertata dalam manajemen pelayaran termasuk pembagian tugas yang spesifik antar bagian dalam perahu untuk berlayar. Hal ini membuat orang Byak memiliki kemampuan tinggi dalam pelayaran dan menempuh rute hingga ke berbagai tempat termasuk ke Raja Ampat.
Tentang Nama Usba
Tentang kata Usba, menjadi pembahasan yang ditanyakan oleh peserta diskusi. Dalam temuan, nama Usba memiliki ragam arti, ada yang menyebutnya berasal dari kata Ursba yang berarti “tidak ada urusan lagi” , ada lagi yang menyatakan artinya adalah “tidak menyusul”, atau tidak ada keributan. Menanggapi hal ini, Prof. Susanto yang telah membaca buku tersebut mengungkapkan, Usba dapat juga dikatakan sebagai ‘perdamaian’ dimana tidak ikut lagi berbagai urusan keributan. Motivasi diaspora yang umumnya dikarenakan oleh kesulitan baik karena bencana alam, perang atau perselisihan membawa orang-orang yang berdiaspora mengingini kehidupan yang damai.
Sementara itu, Mahendra Uttunggadewa, salah seorang penulis buku Rekonstruksi Sejarah Sub Suku Usba di Raja Ampat menanggapi ragamnya makna Usba menyatakan, “Keragaman ini justru baik dalam menggambarkan pluralitas dan tidak perlu direduksi menjadi makna tunggal yang justru mengurangi makna aslinya. Ini menunjukkan kekayaan unsur dalam Usba yang tidak harus diseragamkan.”
Secara waktu, nama Usba ditemukan pada abad 15 terkait relasi dengan Kerajaan Tidore, pada abad 17 dan 18 juga disebutkan dalam catatan dan dokumen penjelajah Eropa ke Indonesia Timur.
Pentingnya Penulisan Sejarah
Ketua Dewan Adat Papua, Dominikus Surabut yang hadir langsung di lokasi acara menyampaikan bahwa apa yang telah diinsiasi oleh Dewan Adat Sub Suku Usba juga telah menjadi agenda penting bagi Dewan Adat Papua. Wilayah Papua merupakan tempat ratusan adat tumbuh dan berkembang yang tetap hidup hingga saat ini. Karena itu, Dominikus menegaskan, bagi Dewan Adat Papua, penelitian terkait Papua haruslah melibatkan pihak adat, dengan demikian penelitian itu menjadi sah adanya.
Saat ini Dominikus juga menyerukan komunitas adat lain untuk melakukan penelusuran sejarahnya untuk mengangkat tentang pentingnya adat dan tradisi dalam kehidupan masyarakat Papua. Selain Dominikus, hadir pula di lokasi acara generasi muda dari Usba dan Jimmy Bronx musisi berdarah Raja Ampat yang tinggal di Jakarta, menyatakan kebahagiaan atas kelahiran buku ini dan merasakan perlunya generasi muda mengetahui tentang sejarah mereka agar tidak tercerabut dari akarnya.

Prof. Susanto yang juga saat ini tengah mengerjakan buku Sejarah Nasional Indonesia, dengan adanya informasi dari buku ini menyatakan akan memasukkan kisah dari Sub Suku Usba sebagai salah satu narasi dalam buku Sejarah Nasional Indonesia. Menurut Prof. Susanto perjalanan sejarah Usba juga penting dikemukakan untuk melengkapi sejarah Indonesia dari Sabang hingga Merauke.
Dewan Adat Sub Suku Usba merupakan organisasi adat yang dibentuk masyarakat Usba dengan struktur yang mengikuti stuktur adat kemasyarakatan suku Byak dan menyesuaikan dengan tempat tinggal mereka di Raja Ampat. Dalam kesempatan lain, Manfun Kawasa Byak, Dewan Adat Suku Biak Apolos Sroyer menyatakan memberikan ruang bagi Dewan Adat Sub Suku Usba memiliki kursi dalam Dewan Adat Byak karena secara kesejarahan Usba juga terkait dengan Byak.
Buku Rekonstruksi Sejarah Sub Suku Usba diedarkan oleh Institut Usba yang juga baru saja diresmikan sebagai wadah gerak pelestarian kebudayaan dan lingkungan Raja Ampat secara khusus dan Papua secara umum. Pemesanan buku dapat dilakukan melalui website Institut Usba . ***

Comments are closed